Solatun's Communication Blog

COMMUNICATION, CULTURAL STUDIES, AND CRITICAL DISCOURSE

PENDIDIKAN, KEMBALILAH KE MASA DEPAN

PENDIDIKAN, KEMBALILAH KE MASA DEPAN
Warisan Intelektual Alm. Prof. Dr. Dedi Supriadi
Oleh SOLATUN

Waktu meloncat. Masa lalu, masa kini, dan masa depan kian tak berbatas. Ruang kian tak berjarak. Setahun serasa satu jam, sejam serasa satu detik. Jarak dalam satuan panjang bagai tiada lagi. Perubahan peradaban sosiokultural secara akumulatif berjalan ekstra cepat dan semakin cepat, seakan dimampatkan. Kita -sebagai realitas psikologis, sebagai bagian dari entitas ideologis dan sosiopsikologis, dan bahkan sebagai bagian dari entitas peradaban sosiokultural- terancam menjadi entitas masa lalu. Entitas peradaban sosiokultural yang terdegradasi, terdiskualifikasi, kemudian tereliminasi dan teralienasi oleh laju peradaban sosiokultural lainnya.
Aroma kegundahan intelektual ini mewarnai hampir setiap lembaran terakhir dari pergumulan pemikiran Prof. Dr. Dedi Supriadi sebelum kemudian dipanggil Allah SWT Kamis, 8 April 2004 yang baru lalu. Lembaran itu membentang menembus ufuk bak belantara rimba tak berbatas di tengah samudera yang dalam dan tak bertepi. Batas, kedalaman, dan tepiannya melampaui alam inderawi. Dunia makna, namun demikian, melihatnya begitu jelas ketika Dedi Supriadi dipilih Tuhannya untuk kembali ke masa depan. Artefak intelektual merupakan satu-satunya penghubung kita dengannya. Wacana interpretif merupakan satu-satunya bahasa yang memungkinkan kita berkomunikasi dengannya.
Pengelanaan interpretif ke dalam wilayah intelekltual kependidikan Dedi Supriadi ini, mencatat dua bundel besar pemikiran yang meliputi pikiran-pikiran makrososietal dan pikiran-pikiran mikrokultural kependidikan. Belasan buku dan ratusan makalah dan artikel Dedi Surpiadi nyaris terrangkum dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Konseling (PPGBK) UPI di Bandung 18 Oktober 2001 lalu. Dua makalah terakhir yang ditulisnya masing-masing “Reposisi Bimbingan dan Konseling Di Tengah Lingkungan Yang Berubah (RBK), dan Isu-isu Muatan Nilai Dalam Konseling Lintas Budaya (IMN) nyaris menyerupai peta belantara pemikirannya. Ia begitu terfokus untuk membangun secara paradigmatik di atas kedua bundel pikirannya tersebut sebuah model pemikiran kependidikan sintesis yang integralistik. Sintesa integralnya mengarah pada simpulan hipotetik bahwa dunia pendidikan kita harus ditransformasikan secara multidimensional agar tidak punah tertelan putaran waktu; agar tidak lenyap terlipat untaian masa dan tertinggal di belantara keterbelakangan menjadi masa lalu.
Butir-butir penting pemikiran kependidikan yang bersifat makrososietal mencakup sekurang-kurangnya lima pokok pemikiran penting. Pertama, pikiran-pikiran yang merupakan proaksi intelektual Dedi Supriadi terhadap perubahan peta dan dinamika peradaban sosiokultural di segala aspek dan semua tingakatan. Skala dan intensitas perubahan yang sangat dan semakin dahsyat. Perubahan tersebut dalam skala global tercermin di dalam decak persaingan, pergesekan, dan bahkan benturan (meminjam istilah Huntington) antar entitas peradaban untuk saling merebut hegemoni dunia. Tiga peradaban yang saling bersaing, bergesekan, dan berbenturan di dalam perebutan hegemoni tersebut yaitu Barat, Islam, dan Konfusius mendapat apresiasi intelektual yang sangat konstruktif (PPGBK:49).
Monokulturasi sebagai sebuah upaya menggiring umat manusia ke arah monokulturalisme global dalam arti Kultur Barat atau lebih spesifik Kultur Amerika mendapat sorotan terpenting dalam konteks benturan peradaban dan perubahan sosiokultural tersebut. Dedi Supriadi, di dalam hal ini, mengambil posisi sependapat dengan F. Capra bahwa peradaban Barat akan runtuh oleh akibat penghidmatan mereka yang berlebihan dan tanpa alternatif terhadap paradigma Newtonian dan Cartesian. Newtonian yang mendewakan hukum mekanika dan menisbatkannya sebagai penunduk dunia, dan Cartesian yang mendikhotomikan jiwa dari raga, terbukti telah menjadi sumber ketidakseimbangan penuh masalah di setiap pojok planet Bumi. Masalah tersebut dalam konteks peradaban telah dan sedang menjadi faktor perubahan yang mengancam masa depan peradaban sosiokultural (PPGBK:60).
Pesan intelektual yang tersirat di dalam setiap celah pemikirannya adalah, bahwa mengekor kepada Barat dengan mengorbankan identitas diri mengikuti berita-berita nubuwat ciptaan Barat merupakan kecelakaan kemanusiaan. Usaha untuk menghadapi dan mengendalikan ancaman tersebut, di pihak lain, hanya dapat ditempuh oleh pribadi dan komunitas sosiokultural yang memiliki jatidiri atau identitas diri yang jelas dan handal. Dunia pendidikan kita yang baru terpeleset melesat maju ke belakang harus direposisikan untuk meluncur kembali ke masa depan.
Kedua, perubahan peta dan arah dinamika peradaban ultradahsyat di dalam setting ketidakseimbangan sosiokultural mendesak, bahkan memaksa umat manusia untuk melakukan transformasi, reformasi, dan reposisi. Trnasformasi, reformasi, dan reposisi menjadi tuntutan individual maupun kolektif serta harus dilakukan secara terus menerus. Pencarian dan pendefinisian kembali (redefinisi) jatidiri atau identitas diri menjadi isu penting, bahkan krusial. Redefinisi identitas diri pada level personal maupun komunal dapat berupa upaya rekonstruksi diri secara sistematik baik pada tataran individual maupun kolektif. Konstruksi diri yang sistematik menunjuk pada upaya penyesuaian kapasitas dan kapabilitas sampai derajat kemampuan yang layak untuk menghadapi dan mengendalikan setiap detil perubahan. Pendidikan dalam arti luas baik secara instrumental maupun enviromentral merupakan institusi sosiokultural yang paling otoritatif dan bertanggungjawab untuk menjalankan proses ini.
Ketiga, transformasi dan reformasi rekonstruktif harus mencakup segala aspek kehidupan, dan dilaksanakan pada semua tingkatan. Aspek-aspek tersebut meliputi aspek ideologis, politis, ekonomis, sosial, budaya, dan bahkan juga hankam.
Transformasi multisektoral juga harus dilaksanakan di atas asas keseimbangan antar sektor. Kemandegan dan kebekuan aspiratif di masa Orde Baru menurut Dedi Supriadi merupakan salah satu contoh kasus yang merepresentasikan ketidakseimbangan transformatif . Penonjolan transformasi bidang ekonomi dan pertahanan keamanan tanpa imbangan transformasi ideologis dan politis terbukti telah menghasilkan ledakan sosial politik yang mengakibatkan cedera pada berbagai penggalan proses pergantian kepemiminan nasional kita dari Orde Baru kepada Orde Reformasi. Penonjolan transformasi segi-segi intelektual di sektor pendidikan dengan mengabaiakan segi-segi moral, telah menghasilkan komunitas manusia baru berotak cerdas yang siap menjadi pemangsa sesamanya.
Transformasi juga harus dilakukan pada semua tingkatan sosiokultural. Pemilihan istilah lingkungan oleh Dedi Supriadi menginspirasi kita tentang lingkungan sosiokultural dengan segala hierarkinya sebagai medan perubahan. Lingkungan multikultural yang cenderung semakin plural mendorong kita untuk berkepekaan antarbudaya. Kepekaan antar budaya merupakan modal untuk membangun kapabilitas personal maupun kolektif di dalam pergaulan antar dan lintas budaya. Moda pergaulan antar dan lintas budaya ini merupakan harga pas yang harus kita bayar di dalam transaksi sosiokultural di Indonesia. Transaksi sosiokultural di atas dasar kepekaan antar dan lintas budaya akan mendorong kita ke dalam segregasi, kemudian integrasi, dan membuahkan suatu mesin multikulturasi kebangsaan (nasional).
Segregasi atau katakanlah pemilahan batas-batas sosiokultural atas dasar keragaman suku bangsa, etnik, agama, dan kewilayahan teritorial tidak perlu tabu bagi kita. Kesadaran atas realitas kemajemukan dalam kesatuan identitas kebangsaan akan menjadikannya dorongan untuk berintegrasi dengan cara mencairkan bilik-bilik penyekat tersebut. Integrasi kebangsaan dari entitas sosiokultural yang berragam akan mendorong kepada suatu proses multikulturasi yang menjamin terbangunnya mosaik kebangsaan multikultural Indonesia. Di dalam bangunan inilah setiap pribadi dan komunitas memainkan peran etnokultural dan ekokulturalnya masing-masing di dalam kerangka pencapaian tujuan nasional (National Goal Attainment) Bangsa Indonesia. Keberragaman dalam kesatuan akan menjadi pernik-pernik kebangsaan yang plural multikultural. Multikulturalisme dan pluralisme model ini, akan mampu memelihara diversitas kebangsaan kita. Jalur ganda concurrent, consecutive, dan akta merupakan celah masuk ide-ide multikulturalisme pluralistik tersebut di muka ke dalam dunia pendidikan guru (RBK:6).
Keempat, mendefinisikan kembali (redefinisi) indentitas diri. Satu pertanyaan retoris mengemuka dari dalam pemikiran Dedi Supriadi:”siapa diri kita sebenarnya?”. Pertanyaan dengan arah yang sangat jelas, sehubungan dengan keguncangan dunia pendidikan pasca reformasi. Permisifitas (keserbabolehan) sosiokultural sebagai salah satu buah reformasi merupakan harga termahal yang harus dibayar oleh dunia pendidikan. Stakeholder (pihak-pihak berkepentingan) dunia pendidikan dituntut untuk mentrasformasikan diri dengan terlebih dahulu mendefinisikan kembali jati diri atau identitas diri. Ide-ide baru seperti MBS dan KBK berhamburan bak air bah, namun kejelasan jati diri kita akan menentukan manfaat atau madharatnya (RBK:4).
Kelima, redefinisi itu dapat dilakukan jika dan hanya jika berproses pada tingkatan kesadaran kolektif di dalam setiap wilayah kemasyarakatan yang multikultural. Butir pikiran ini mengisaratkan betapa pentingnya lingkungan bagi suatu proses bernama pendidikan. Pendidikan dalam arti luas, melampaui batas-batas formal prosedural, memandang lingkungan sebagai faktor penting yang menentukan.
Lingkungan yang terus berubah menghadapkan pendidik pada situasi, tantangan, dan sekaligus peluang baru. Para professional bidang konseling -yang dalam banyak konteks disebut pendidik dalam arti luas, lebih dari sekedar yang tercakup ke dalam batasan formal prosedural keguruan dan persekolahan- misalnya, harus lebih terbuka, akomodatif terhadap segala perubahan, aktif menyerap segala perkembangan ilmu-ilmu lain, tidak mensekat diri di dalam kamar-kamar sakral keilmuan, dan mampu berkolaborasi dengan bidang profesi lainnya. Profesional bidang konseling khususnya dan pendidikan umumnya harus peka terhadap perubahan dan siap memperbaharui diri sehingga tidak terjerembab menjadi makhluk anomalis yang usang di tengah lingkungan yang berubah dan terus berubah.

BAGIAN 2:
Butir-butir pemikiran mikrokultural Dedi Supriadi lebih mencerminkan kesadaran intelektualnya tentang pertama, dampak Pergesekan Peradaban Timur-Barat terhadap dunia pendidikan. Ia misalnya, begitu seksama mencermati istilah benturan peradaban sebagai pengganti benturan militer yang dilansir di dalam tesis Huntington. Tentang tiga kekuatan dunia yang akan bersaing dan saling berbenturan yaitu Barat, Islam, dan Konfusius, Dedi Supriadi menengarai gelagat Barat melakukan pelabelan sosiokultural terhadap Islam dan Konfusius untuk menciptakan nubuwat yang dapat didorong menjadi kerangka landasan tindakan membenturkan diri dalam kontkes self fulfilling prophecy. Penengaraan intelektual yang sangat kuat, tajam, dan akurat.
Permasalahannya kemudian adalah, bagaimana dunia pendidikan kita secara proaktif mengendalikan arus informasi massif dan ekstra persuasif tersebut agar tidak menerjang jonjot-jonjot nalar anak bangsa Indonesia. Monokulturasi dengan paradigma sosiokultural value free, adalah inti dari segala kampanye provokatif modernisasi Barat dalam arti westernisasi dan sekulerisasi. Muatan nilai (value laden) di dalam dunia pendidikan atau juga di dalam profesi konseling dalam arti luas, merupakan keniscayaan. Konseling itu sendiri justeru merupakan pengimplikasian nilai-nilai, baik secara eksplisit maupun implisit. Nilai-nilai tersebut dapat mencakup nilai religius, nilai etik-moral, nilai estetika, keilmuan, dan nilai-nilai lainnya (IMN:1). Nilai-nilai dalam konteks multikulturalisme plurais, Dedi Supriadi menunjuk sistem nilai sosiokultural masyarakat kosmopolis Madinah di bawah kepemimpinan Nabi SAW yang dilanjutkan oleh Khulafaurrasyidiin. Pendidikan dalam arti pendewasaan sosial masyarakat Madinah oleh Nabi SAW menunjukkan konsen yang sangat tinggi terhadap nilai-nilai egaliterisme, pluralisme, dan keadilan. Kesemua nilai tersebut tentu saja, merupakan bunga rampai dari sistem nilai religius bernama Islam (PPGB:41).
Peradaban dan sistem nilai Konfusius juga dipandang Dunia Barat sebagai ancaman. Bentuk-bentuk ancaman dari sistem nilai dan peradaban tersebut lebih tercermin pada asketisme duniawi yang mengemuka dalam bentuk pertumbuhan ekonomi di China, Korea, Singapura dan Taiwan. Petumbuhan ekonomi yang mewakili modernisasi kontra westernisasi ini memperoleh posisinya yang tersendiri di mata Barat. Pertanyaan kita adalah, bagaimana sistem nilai kita akan dapat mengangkat asketisme duniawi kita seimbang dengan semangat keislaman kita sebagai mayoritas dari keluarga Bangsa Indonesia.
Dedi Supriadi memandang bahwa kita harus menjadikan reformasi sebagai transformasi budaya. Budaya sebagai sebuah pemrograman kolektif nalar pikian manusia perlu dibangun di atas kerangka peradaban yang kokoh dan dalam tempo yang relative panjang. China misalnya, memerlukan tiga dasawarsa untuk melakukan reformasi tranformatif budaya mereka dan menjadi China saat ini. Peradaban sosikultural di bidang ekonomi China, namun demikian, saat ini telah menjadikan Barat Amerika merasa tergesek, bahkan terbentur dalam konotasi peberutan hegemoni dunia. Trnasformasi sosiokultural melalui pendidikan, meski memerlukan tempo panjang, merupakan wilayah di dalam mana kita berpeluang untuk menjadi pemenang di dalam kompetisi hegemonik di tingkat global. Transformasi pada tingkat mikrokultural ini merupakan suatu proses yang sangat fundamental dan bersifat mendesak, oleh karena menyangkut segi-segi internal konstruksi kultural manusia Indonesia.
Kedua, Dedi Supriadi berusaha memotret reformasi pendidikan yang menggebu-gebu. Reformasi bidang pendidikan berimplikasi ganda. Dunia pendidikan di satu pihak melihat bentangan harapan-harapan baru. Masyarakat sebagai salah satu stakeholder pendidikan di pihak lain menunjukan sikap yang lebih kritis, lebih berani menuntut hak-haknya di bidang pendidikan, dan menghendaki sekolah dan dunia pendidikan menjadi lebih terbuka. Siswa juga menunjukan peningkatan kesadaran akan keinginannya. Guru dan komunitas professional bidang pendidikan di dalam situasi seperti ini, dituntut untuk sadar dan lebih sadar lagi akan peranan fungsional dan strukturalnya di dalam dunia kependidikan yang selalu berubah. Profesional bidang pendidikan bukan saja melayani peserta didik melainkan juga harus menjadi mitra peserta didik dan stakeholder pendidikan.
Ketiga, rekonsepsi dan reformulasi pendidikan. Hiper simplifikasi pendidikan kearah penyempitan menjadi pengajaran tersirat dengan sangat jelas di dalam setiap juring pemikiran kependidikannya. Dedi Supriadi, misalnya, menaruh konsen yang begitu kuat terhadap wacana teoretik kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Konsen terhadap trend dan wacana ini dengan catatan kecil, “tidak sekedar mode”, melainkan harus menukik ke kedalaman substantifnya.
Geger yang mengiringi wacana kecerdasan spiritual dipergunakannya untuk menyingkap wilayah kecerdasan baru di luar kecerdasan intelektual. Kecerdasan manusia menurutnya tidak dapat diungkap semata dari segi-segi dan perspektif intelektualnya. Pencermatan Dedi Supriadi terhadap pemikiran Howard Gardner ( dalam Miltiple Intelligence), Daniel Coleman (dalam Emotional Intelligence), dan Zohar dan Marshal (dalam Spiritual Intelligence) telah membuka jendela baru wawasan kependidikan dalam pengertian mikro yang mencakup pengelolaan dan pegembangan kecerdasan manusia (RBK:4).
Keempat, pemaknaan kembali pendidikan Indonesia. Makna pendidikan harus dibangun di atas domain yang lebih luas melampaui batas-batas teknis, formal, prosedural dan instruksional. Pendidikan harus dikonstruksi sebagai sebuah realitas sosiokultural di dalam mana ikhtiar-ikhtiar pendidikan dirumuskan, diimplementasikan dan dikendalikan. Prspektif-perspektif yang mendukung seperti perspektif sosiologis, antropologis, historis, filosofis, dan bahkan juga politis harus dilibatkan ke dalam rekonstruksi maknawi dunia pendidikan kita (PPGB:3). Peranan historis ajaran agama dan nilai-nilai keagamaan di dalam pembentukan perilaku sosiokultural umat manusia di muka Bumi juga memustahilkan kita untuk tidak melibatkan agama sebagai salah satu perspektif di dalam rekonstruksi reformulatif makna pendidikan kita.
Kelima, tinjauan teoretis perilaku kreatif individu dan masyarakat serta aspek-aspek sosiopsikologis dan budaya yang membentuknya. Dedi Supriadi secara tersirat hendak menunjuk pembentukan perilaku kreatif sebagai suatu proses mikrokultural yang tidak terlepas dari lingkungan makrososietal. Masyarakat sebagai lingkungan makro dengan berbagai detil kompleksitas sosiokulturalnya merupakan faktor yang menentukan perilaku kreatif ini. Strategi lingkungan (environmental) dengan demikian, merupakan saran yang perlu dipertimbangkan di dalam perumusan, implementasi, dan pengendalian program-program pendidikan.
Keenam, pendekatan multidisiplin-antardisiplin-lintasdisiplin merupakan kegundahan metodologis yang sangat kental di dalam berbagai bagian tulisan Dedi Supriadi. Langkahnya memasuki wilayah Sosiologi, Antropologi, Filsafat, Sejarah, dan bahkan kajian internasional merupakan isyarat yang sangat jelas mengenai pentingnya pendekatan tersebut. Pagar-pagar dan sekat-sekat normatif prosedural di dalam kajian kependidikan, misalnya di dalam kajian Bimbingan dan Konseling tidak perlu diposisikan sebagai harga pas di dalam pemikiran kependidikan. Implikasi metodologisnya adalah bahwa kajian dan penelitian di bidang kependidikan juga harus didekonstruksi dan direkonstruksi. Konstruksi kajian dan penelitian kependidikan, namun demikian, bukan harus eksklusif dan dikotomis dengan memberlakukan salah satu metode dan menafikan yang lainnya. Paradigma inklusif merupakan paradigma alternatif yang mengemuka secara eksplisit dari dalam relung pemikiran metodologisnya.
Ketujuh, paradigma inklusif, dalam pemikiran metodologis Dedi Supriadi, seakan ditawarkan sebagai jalan kontinum menuju validitas ilmiah yang multipolar. Cara pandang metodologis seperti ini tentu saja telah mengemuka sejak tahun 1978-an di dalam mana Michael Quin Patton bersama tim penelitiannya berusaha menjembatani kesenjangan interpretif di lingkungan pendidikan di Northern America, dan khususnya di distrik Michigan.
Patton mempergunakan istilah methodological mix. Istilah ini ditujunkan pada penggabungan beberapa teknik penelitian dalam satu program penelitian yang sama. Kekurangan Patton dalam hal ini adalah tidak menyediakan paradigma, atau kerangka pikiran utama (grand frame of methodological thought) yang dapat dijadikan sebagai fondasi pengembangan selanjutnya. Dedi Surpiadi dengan paradigma inklusif-nya seakan menunjukkan sebuah keberanian intelektual untuk memenuhi kekosongan paradigmatik tersebut.
Keberanian ini dapat menjadi sebuah loncatan dan terobosan yang sangat besar. Hal ini terutama jika kita mengkaitkannya dengan polarisasi pemikiran ilmiah ke dalam positivistik social science (ilmu sosial berparadigma positifistik), interpretive social science (ilmu sosial berparadigma interpretif), dan critical social science (ilmu sosial berparadigma kritik). UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) hingga saat ini masih membiarkan paradigma positifistik dan interpretif berjalan masing-masing. Dedi Supriadi melakukan inisiasi untuk meloncat menerobos pagar-pagar dan sekat-sekat metodologis yang kaku tersebut dengan disertasinya tentang kreativitas orang-orang kreatif.
Penjulukan “Paradigma Inklusif” dapat dikesankan sebagai keikutsertaan serius Dedi Surpiadi ke dalam persoalan teknis metodologis. Peletakannya ke dalam kajian dan penelitian kependidikan, namun demikian, akan dapat mendobrak kekakuan tradisional yang selama ini menyekat dan mengkutubkan tiga model pemikiran ilmiah dibidang kemasyarakatan terutama bidang pendidikan.
A. Chaedar Alwasilah dan Dedi Mulyana yang telah lebih dahulu menulis Metode Penelitian Kualitatif dan Metodologi Penelitian Kualitatif boleh bertambah gembira karenanya. Jalan kontinum telah terbentang di antara dua aliran besar pemikiran ilmiah kemasyarakatan. Model-model pemikiran analitik kontingensial pun siap bergulir sebagai kendaraan mengembalikan Dunia Pikir Ilmiah, khususnya Dunia Pikir Pendidikan Indonesia meloncat menerobos ke masa depan.

Solatun:Doktor Ilmu Komunikasi
Program Pascasarjana UNPAD

About these ads

Februari 23, 2009 - Posted by | Uncategorized

2 Komentar »

  1. pak .. sunggguh benar apa yangb telah bapak gagaskan dalam pendidikan ini.. satu hal yang belum saya mengerti. biasa nya kita mengambil rujukan dari sebuah buku yang dikarang oleh seorang ilmuwan 4 tahun yang lalu kemudian ilmuwan itu juga mengarang buku dengan referensi dari buku buku yang dikarang 20 tahun yang lalu.. nah yang menjadi pertanyaan bukannya dalam hal ini pendidikan kembali pada wajah masa lalu …sampi sekarang pun begitu.. dan yang ingin yana pertanyakan lagi ialah bagaimana kita mengubah sebuah kebiasaan dalam penyalahgunaan kemampuan meniru pendapat seseorang. terima kasih

    Komentar oleh yana | November 23, 2009 | Balas

    • Mas Yana anu kasep, Terhadap kenyataan in mita coba cermati nasigat Ali Bin Abi Thalib bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini. Sementara, Albert Einstein menterjemahkan nasihat ini ke dalam pemikiran bahwa Ilmu Pengetahuan yang kita jumpai hari ini adalah hasil improvemen terakhir dari Ilmu Pengetahuan terdahulu. Mungkin, ini mungkin……………., Kita memang harus merujuk kepada yanbg lalu,dengan jjujur dan kritis, dan kemudian kita membuat konklusi tentang apa yang sebenarnya ada pada hari ini,….TETAPI…. JANGAN stop sampai di situ,… Kita taris pemikiran-pemikiran projektif ke depan yang menggambarkan mimpi imajinatif kita tentang apa yang boleh kita angankan untuk terjadi, mungkin terjadi, dapat dimungkinkan terjadi dan dapat diusahakan kelayakannya untuk menjadi hal imajinatif itu menjadi terjadi. Ini dalam benak saya saya beri judul merujuk kepada yang telah ada, menegakkannya dalam sebuah bangunan konklusif di hari yang sedang ada dan kita berrada di sana, dan memprojeksikannya ke masa depan tempat kita semua akan ke sana baik sampai ke titik akhir yang kita projeksikan maupuin terpaksa karena usia kita terbatas maka kita harus berestafet untuk mewujudkannya. STRATEGINYA,………..pastikan kita bermimpi sacara sistematik sebelum tertidur dan wujudkan mimpi kita itu sebelum kita terlanjur terjaga.

      Komentar oleh solatun | November 23, 2009 | Balas


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: