Solatun's Communication Blog

COMMUNICATION, CULTURAL STUDIES, AND CRITICAL DISCOURSE

ISLAM ITU INDAH

ISLAM ITU INDAH:
Refleksi Pengembaraan Ruhani Profesor Ilmu Komunikasi
Oleh SOLATUN

Judul Buku : ISLAM ITU INDAH: Renungan dan Pengembaraan Rohani Guru Besar Komunikasi
Tebal : 199 halaman (20 X 14 Cm)
Penulis : Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D.
Penerbit : Khazanah Ilmu-Bandung

Ketelanjangan merupakan keindahan paling sempurna. Ungkapan ini sangat akrab bagi komunitas estetika dan kesenian. Ungkapan ini ternyata juga berlaku untuk Islam sebagai sebuah pranata sosial baik pada level profetik maupun historik. Ketelanjangan Islam bahkan boleh jadi merupakan satu-satunya ketelanjangan yang tidak tercakup ke dalam larangan yang termuat pada pasal-pasal RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi.
Islam sebagai sebuah pranata sosial profetik menawarkan (tidak memaksakan) sejumlah konsep sistemik yang utuh menyeluruh, dalam rumusan proporsi serba imbang dan setimbang, serta terbuka terhadap kritik (tidak hipokritik) yang menjadikannya siap berdialog dengan segala model dan tingkatan nalar umat manusia secara telanjang.
Islam dengan ketelanjangan sempurna menawarkan konsep rentang dan siklus hidup dunia-akhirat, konsep ilmu-amal, konsep reward system amal-pahala/siksa, konsep tanggungjawab sosial imam-ma’mum, konsep redistribusi sosial kaya-miskin, dan konsep hidup totaliter makro-mikro.
Konsep hidup-mati dan kiamat-akhirat dalam Islam begitu telanjang dan bersentuhan langsung dengan fakta-fakta kejadian pembenarnya, benar-benar bebas dari nuansa mitologis. Musibah dan bencana tsunami misalnya, menjadi pembenar mega-visual atas mega-berita dari dalam surah Al-Zilzalah. Konsep pahala-siksa, harapan-ancaman, dan ketenteraman-keputusasaan direalisasikan melalui prosesi hidup historis umat manusia dari dunia hingga akhirat (kecil) dalam sebuah episoda yang sama. Tuduhan orang-orang Musyrik bahwa Nabi Muhammad tidak lebih dari tukang sihir dan orang gila pun mentah di atas hamparan nalar manusia paling awam hingga nalar paling cerdas yang pernah ada.
Mega-krisis ekonomi dunia mencapai puncaknya ketika konsep kapitalisme Barat Modern mengglobalisir sistem produksi-distribusi-konsumsi umat manusia. Lose-profit sharing system (salah satu pilar perekonomian syari’ah) sebagai konsep induk sistem ekonomi Islam yang dulu ditakuti dan dicemooh tiba-tiba tampil di Indonesia menjadi bukti kebenaran larangan riba dan kemaslahatan zakat. Lempeng baja pembawa nyala api neraka jahannam produk ekonomi riba itu telah dan masih sedang terus membakar rupiah dan ekonomi Indonesia yang diiringi bertumbangannya puluhan bank, namun keuangan dan perbankan syariah tumbuh sehat membawa bukti kebenaran Islam.
Paparan naratif dari refleksi pengalaman bathin yang telah ternubuwatkan oleh kejadian nyata itu dirangkai dengan sederet pengalam pribadi Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D., baik sebagai mahasiswa di mancanegara, sebagai ayah dan sebagai suami di dalam keluarga, sebagai aktifis pengajian di sela-sela kesibukan kesehariannya, dan sebagai guru besar Ilmu Komunikasi. Gaya tutur yang sangat naratif khas Deddy Mulyana mengajak pembaca untuk berwisata menguak pengalaman ruhani di tengah rimba Al-Qur’an yang keindahan ritme, bahasa, dan kosakatanya telah merevolkusionerkan Bahasa Arab dan menginspirasi hampir semua bahasa manusia di dunia.
Sukaduka pengalaman Muslim dan Muslimah korban kebencian kesalahpahaman membingkai potret pengelaman spiritual pribadi penulisnya yang selalu hajat untuk tenggelam dalam kesadaran mengamalkan Al-Qur’an. Oleh-oleh dari perjalanannya sekeluarga ke Jerman dan London penghujung 2005 menambah lengkap potret keindahan Islam yang dipaparkan setelah dinikmatinya langsung bersama keluarganya tercinta.
Satu-satunya kelemahan dari buku ini adalah plot yang lebih mengikuti alur waktu kejadian dan pengalaman yang duisusun berdasarkan urutan hirarki spiritualitas versi penulisnya. Gaya plot ini namun demikian justeru merupakan kekuatan buku ini yang akan menjadikan pembaca terbuai dimanjakan lembutnya tanggga-tangga tingkatan berpikir yang lebih mengikuti rasa spiritual tanpa mengabaikan pertimbangan-pertimbangan konsepkonsep penulisan yang berlaku umum dan formal.

Februari 23, 2009 - Posted by | Uncategorized

2 Komentar »

  1. Ass Wr.Wb
    Blog ok banyak manfaat

    Komentar oleh marno | April 18, 2009 | Balas

    • mohon feedback

      Komentar oleh solatun | Juni 27, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: