Solatun's Communication Blog

COMMUNICATION, CULTURAL STUDIES, AND CRITICAL DISCOURSE

JAWA BARAT DALAM PERSPEKTIF

Mimpi Eskatologis
JAWA BARAT 2010 DALAM PERSPEKTIF
Oleh SOLATUN

Jawa Barat memang segalanya bagi Indonesia. Manusia cerdas Indonesia terkumpul dan mengasah kecerdasan nalarnya di ITB, di Jawa Barat. Udara paling sejuk Indonesia adanya di Bandung, di Jawa Barat. Gadis-gadis tercantik Indonesia adanya di Bandung, di Jawa Barat. Sayur-sayuran dan buah-buahan segar Indonesia semuanya adanya di Lembang dan Cisarua, di Jawa Barat. Vulcano satu-satnya yang dapat dicapai kendaraan roda empat adalah Tangkuban Parahu, di Jawa Barat. Pusat pendidikan tinggi terkemuka pencetak doktor dan para jenderal (UI, ITB, UNPAD, UPI, SESKOABRI, SESPIMPO SESKOAD, SESKOAU) adanya di Bandung Jawa Barat. Pesantren paling kolosal, paling besar, dan paling modern di dunia adalah Al-Zaitun, juga berada di Jawa Barat. Industri dari yang paling massal produksinya, paling canggih teknologinya, hingga paling strategis adanya juga di Jawa Barat.
Kita hanya ragu dengan satu hal bahwa itu ada di Jawa Barat, yaitu akhlaq atau moralitas baik akhlaq individual, akhlaq sosial, maupun akhlaq kebangsaan sebagian terbesar masyarakat Jawa Barat. Keraguan kita misalnya dapat didasarkan pada alasan bahwa ternyata korupsi tertinggi di Indonesia terjadi di Jawa Barat. Sampah masyarakat paling mesum (pelacur, pemakai narkoba, dan manusia sejenis itu) pun paling banyak berdomisili di Jawa Barat. Sampah kota paling menyebalkan adanya di Bandung, di Jawa Barat. Jalan berlubang-lubang, kemacetan lalulintas akut di setiap pojok kota, dan kios-kios kumuh di atas trotoar juga adanya di Bandung, di Jawa Barat. Dan, video porno paling spektakuler dan kontroversial pun dibuat di ITENAS, yang juga di Bandung Jawa Barat. Hal yang juga tidak mungkin lepas dari ingatan kita adalah bahwa hutan paling rusak di Pulau Jawa adalah hutan Jawa Barat.
Jawa Barat memang propinsi fenomenal. Propinsi ini berpenduduk terbesar, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terrendah, derajat kesehatan masyarakatnya sangat rendah, tingkat /angka pengangguran dan pemutusan hubungan kerja (PHK) tertinggi, korupsi tertinggi, dan drop-out sekolah dasarnya pun tertinggi. Cita-citanya, menjadi propinsi termaju di Indonesia tahun 2010. Industri andalannya, penyewaan area untuk penampungan sampah ibukota Jakarta. Luar biasa.
Kesan tersebut di atas belum tentu benar, tetapi boleh jadi juga sama sekali tidak salah. Kita namun demikian, tampaknya memang bukan harus berurusan dan berwacana dengan benar atau salahnya kesan tersebut di muka. Persoalan Jawa Barat paling krusial tampaknya justeru adalah cita-cita ngin menjadi propinsi termaju di Indonesia tahun 2010.
Persoalan ini menjadi paling krusial oleh karena beberapa alasan. DPRD Jawa Barat misalnya, sudah bekerja sebulan lebih dan sibuk merumuskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), tetapi hingga saat ini belum merumuskan cetak biru Jawa Barat sebagai propinsi termaju di Indonesia tahun 2010 yang merupakan mimpi spektakuler itu. Sketsa kasar lisan pun belum pernah terlontar baik oleh perorangan anggota atau pimpinan DPRD, maupun oleh DPRD secara institusional. Aneh memang, cetak biru program dan bangunan yang hendak dicapai belum ada tetapi anggarannya disusun terlebih dahulu.
Persoalan ini menjadi lebih krusial lagi dan perlu kita wacanakan, mengingat 2010 itu tinggal lima tahun lagi. Kita pada saat ini bukan saja belum melihat kesiapan mental, apalagi kesiapan lainnya yang tercermin pada sikap dan perilaku para penggede pemerintahan di Jawa Barat. Kita misalnya dapat melihat betapa memalukan kita sebagai warga Jawa Barat ketika Gubernur Jawa Barat berubah sikap dan pernyataan tidak selang sehari dalam persoalan pusat pengolahan sampah ibukota Jakarta di Bojong Jawa Barat. Kejadian memalukan itu sangat jelas menunjukkan betapa lemahnya kekuatan dan posisi tawar Jawa Barat terhadap DKI Jakarta, terutama gubernurnya.
Perubahan sikap gubernur tersebut, benar-benar menarik untuk kita cermati dalam konteks Jawa Barat bercita-cita menjadi propinsi termaju di Indonesia tahun 2010. Kita misalnya menjadi tergelitik untuk bertanya, mungkinkah dengan posisi yang begitu lemah, propinsi penyangga ibukota negara, dengan status sebagai area pembuangan sampah ibukota, ingin menjadi propinsi termaju di Indonesia dalam rentang 5 tahun. Berbagai persoalan yang jauh lebih mendasar, padahal pada saat bersamaam masih mengkendala dan belum jelas alternatif solusinya. Persoalan-persoalan tersebut di antaranya adalah rendahnya kulitas moral SDM (sumber daya mansia) Jawa Barat. Variabel permasalahanya berderet dari A sampai Z dan tercermin secara akumulatif dalam bentuk Indeks Pembangunan Manusia Jawa Barat yang sangat rendah di Indonesia.
Hal yang lebih mendesak mendapat jawaban dan alternatif solusi tepat-akurat-proporsional oleh karenanya adalah “masih pantaskah kita bercita-cita menjadikan Jawa Barat sebagai propinsi termaju di Indonesia lima tahun mendatang?”
Saya sangat yakin bahwa kita tidak perlu, bahkan tidak boleh sama sekali bersikap pesimistis. Optimisme kita namun demikian akan menghadapkan kita pada pertanyaan tentang “propinsi termaju seperti apa yang kita idamkan? Bidang kehidupan apa saja yang harus menjadi prioritas sasaran kemajuan dan keunggulan kita (tentu saja bukan bidang usaha penampungan sampah)? Bagaimana strategi dan taktik pencapaiannya? Modal apa yang telah tersedia, dan apalagi yang masih harus kita cari untuk mengadakannya? Masalah potensial apa saja yang kita hadapi untuk mencapainya? Jika impian itu berhasil kita wujudkan, apa saja indikator keberhasilannya?”
Kita andaikan saja, katakanlah Jawa Barat 2010 adalah sebuah mimpi eskatologis. Mimpi tentang kehidupan masa depan yang harus kita bayar dengan perilaku dan amal nyata hari ini. Impian tersebut hendaknya paling tidak memuat gambaran atau sketsa Jawa Barat sebagai propinsi yang gemah ripah wibawa mukti tata tengtrem kertaraharja, atau gemah ripah lohjinawi toto tentrem karto rahajo (berkesejahteraan sosial, berkeadilan sosial, dan berkepastian hukum sehingga aman tenteram namun dinamis).
Penyediaan sketsa atau semestinya cetak biru Jawa Baratb sebagai propinsi termaju di Indonesia, tentu saja baru satu dari seribu langkah. Hal yang juga mendesak adalah bahwa kita ingin segera melihat dan mengetahui strategi seperti apa yang dirancang oleh pemerintah dan DPRD Jawa Barat untuk mencapai cita-cita tersebut. Kita ingin mengetahui dengan baik formula-formula program pencapaian mimpi-mimpi Jawa Barat 2010. Kita hendaknya saat ini sudah dengan mudah membaca untuk dapat mengikuti secara seksama skenario implementasi program-program pencapaian dan pewujudan cita-cita itu. Kita juga hendaknya sudah dapat mengetahui bagamana pemerintah, DPRD, dan tentu kita semua warga Jawa Barat harus mengendalikan dan mengontrol implementasi program-program pewujudan cita-cita itu.
Keinginan kita tersebut saya pandang sangat beralasan mengingat mimpi Jawa Barat tahun 2010 itu hendaknya bukan mimpi basa-basi para pembesar Jawa Barat terutama gubernur dan pimpinan DPRD. Mimpi tersebut hendaknya, dan harusnya adalah merupakan mimpi kita bersama seluruh entitas Jawa Barat tanpa ada perbedaan status sosial, etnis, atau partai politik. Hal terakhir ini justeru merupakan kesadaran refleksif yang hendaknya menjadi salah satu modal awal pencapain mimpi itu. Kita tidak perlu ragu bahwa tidak mungkin Jawa Barat akan menjadi propinsi termaju di Indonesia hanya dengan pernyataan politik gubernur dan pimpinan DPRD-nya. Kita bahkan juga yakin bahwa sekiranya pernyataan politik itu ditindaklanjuti dengan berbagai program, tetapi tidak disertai dengan kebersamaan seluruh warga Jawa Barat maka mukan saja tidak mungkin tercapai melainkan hanya akan menjadi isapan jempol tak bermakna.
Kita dengan demikian saat ini semestinya bertanya kepada para penggede Jawa Barat tentang beberapa hal yang berkenaan dengan projeksi eskatologis mimpi Jawa Barat tahun 2010. Saya katakan projeksi eskatologis oleh karena mimpi masa depan Jawa Barat ini benar-benar harus kita tebus dan bayar dengan kerja keras, memeras keringat, bahkan tidak mustahil menuntut kita ntuk rela bekerja bahu membahu hingga berdarah-darah.
Pertanyaan kita kepada para penggede misalnya, dari mana dan di atas tumpuan apa kita hendak bertolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial di dalam kerangka merumuskan, mengimplementasikan, dan mengendalikan program-program nyata pewujudan mimpi Jawa Barat tahun 2010. Bagaimana kita membagi tugas besar itu dalam kerangka kerja bersama keluarga masyarakat Jawa Barat agar cita-cita itu tidak menjadi utopia yang hanya menjadi hiasan pidato-pidato politik. Dan kita juga hendaknya sudah tahu bahwa kesemua itu harus dimulai sekarang, bukan besok atau waktu lainnya.
Tanpa mengurangi optimisme dan kepercayaan kita terhadap kapabilitas para pemimpin Jawa Barat, kita juga tetap harus yakin bahwa hanya dengan kerjasama (bukan hanya sekedar kerja bersama dan sama-sama bekerja) yang sinergis kita akan dapat mewujudkan mimpi Jawa Barat yang terlanjur menjadi nyanyian yang trerkadang sumir. Akhlaq sosial juga hendaknya bukan sekadar hiasan pidato seremonial, karena hanya di atas akhlaq itu maka semua piotensi kita masyarakat Jawa Barat dapat menjadi sebuah kekuatan nyata. Hanya orang berakhlaq yang akan belajar menjadi pandai ketika menyadari bahwa dirinya bodoh. Hanya orang berakhlaq yang akan bekerja keras, tekun, dan jujur ketika sadar bahwa dirinya miskin. Hanya orang berakhlaq yang akan berusaha berobat dan memelihara kesehatannya ketika dia sadar bahwa sakit akan menghalagi produktifitasnya. Dan hanya orang berakhlaq yang akan sanggup berhenti korupsi ketika sadar bahwa korupsi itu bukan saja dosa tetapi juga membahayakan masyarakat luas di samping tidak bermanfaat jangka panjang bagi dirinya. Dan, hanya orang Jawa Barat yang berakhlaq yang akan mampu bersinergi dengan memanfaatkan berbagai potensi keunggulan Jawa Barat untuk mewujudkan mimpi Jawa Barat menjadi propinsi termaju di Indonesia tahun 2010.

Februari 23, 2009 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: