Solatun's Communication Blog

COMMUNICATION, CULTURAL STUDIES, AND CRITICAL DISCOURSE

MEMPERTANYAKAN JATIDIRI KI SUNDA

Oleh SOLATUN

Orang Sunda tidak pernah diberi kesempatan memimpin bangsa. Orang Sunda dipinggirkan (dimarginalkan) oleh penguasa Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Ekspresi budaya Sunda telah dirusak oleh pola kekuasaan Orde Baru. Sebagian terbesar kursi DPRD Jabar dan jabatan Gubernur Banten saat ini diduduki oleh orang non-Sunda. Mereka belum tentu memahami perilaku budaya orang Sunda. Pokoknya, jangan mimpi Orang Sunda menjadi pemimpin bangsa. Itulah keluhan berjama’ah -bukan hanya tanggapan- Atip Tartiana (PR 28 April 2004:8) terhadap tulisan Muradi “Menanti Urang Sunda Memimpin Bangsa” (PR 22 April 2004).

Ada apa dengan Ki Sunda?
Aneh memang. Ketika sepuluh butir batu dilempar ke langit di atas kerumunan anak muda di halaman prakir ITB, tiba-tiba tujh orang di antara mereka berteriak, “walah sirahku neng opo iki?”. Dua orang di antaranya berteriak, “aih, saki kapalo den”. Seorang berteriak paling akhir, “aduh sirah aing nyeri euy”. Sepuluh orang tersebut berteriak dengan latar alasan yang sama, terkena batu-batu yang dilempar ke langit di atas mereka. Hal ini yang membedakan ITB dengan Kampus Pascasarjana UNPAD. Jika sepuluh butir batu di lempar ke langit halaman Pascasarjana UNPAD, maka lima butir di antaranya akan mengenai kepala orang asal Sulawesi. Empat butir lainnya masing-masing dua butir mengenai kepala orang Sunda, dan dua sisanya mengenai kepala orang Jawa. Satu butir sisanya mengenai kepala orang Riau.
Acara lempar batu itu tentu saja bukan merupakan salah satu peragaan teknik pengumpulan data yang menjadi tradisi penelitian sosial dengan metode kuantitatif di Pascasarjana Unpad. Acara imajinatif tersebut semata dimaksudkan untuk menguji keajegan indikasi bahwa, hanya ada delapan orang Sunda pada setiap seratus orang yang berbisnis di wilayah Bandung Raya.
Pertanyaan pun muncul, di mana Ki Sunda berada? Yang jelas dan pasti, tidak berada di daerah transmigrasi yang mayoritas penduduknya orang Jawa. Orang Sunda juga sangat sedikit sekali yang bekerja di pengeboran minyak lepas pantai, pelayaran, atau eksploitasi hutan. Hal ini bukan karena orang Sunda tidak ada yang diterima bekerja di sana, melainkan kebanyakan emak mereka tidak akan mengizinkannya.
Orang Sunda sangat sedikit yang kuliah di ITB dan Pascasarjana UNPAD juga bukan karena mereka tidak diberi kesempatan untuk itu. Seleksi masuk ITB dan Pascasarjana UNPAD tidak bersifat diskriminatif. Pemberian izin usaha dan kredit modal usaha juga tidak didasarkan kategori non-Sunda versus Sunda. Komposisi tidak seimbang Sunda versus non-Sunda itu lebih menunjukkan sebagai gejala dan hasil seleksi sosial budaya yang alamiah.
Penunjukan dan dugaan ini bukan dimaksudkan untuk menjustifikasi apalagi memberikan stigma negatif bahwa orang Sunda itu tidak berkualitas. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa tidak semua manusia berkualitas itu kompetitif. Sebaliknya, tidak setiap yang bukan kualitas terbaik tidak kompetitif. Inilah hukum pasar. Hukum pasar berlaku untuk persoalan natural (alamiah), sosial (kemasyarakatan), cultural (kebudayaan), dan pada tingkat mirko persoalan komersial (perniagaan).
Contoh sederhana, Toyota Avanza hanyalah varian minibus Toyota yang kualitasnya satu tingkat di bawah Toyota Kijang, tetapi angka penjualannya merajai Indonesia jauh di atas mobil sejenis dari merek apapun, termasuk Mercides. Hal yang analog dengan ini adalah begitu banyakanya pembantu rumah tangga di Bandung yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini bukan karena perempuan Sunda tidak ada yang dapat mengerjakan pekerjaan yang diembankan kepada mereka oleh majikannya. Alasan kasus terakhir adalah karena nilai total karakteristik para calon pembantu rumah tangga asal Jawa Tengah dan Jawa Timur lebih sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Kata kuncinya, dengan demikian adalah sesuai, cocok, atau compatible.
Kesesuaian menunjuk pada adanya kesetaraan antara suplay (sediaan) dan demand (permintaan). Contoh kesesuaian yang tidak terikat kualitas misalnya Habibi dengan Gus Dur dan Amien Rais dengan Megawati. Kenyataan menunjukkan bahwa wakil rakyat Indonesia lebih memilih Gus Dur untuk menggantikan Habibi, dan Partai yang dipimpin Amien Rais kalah perolehan suara oleh partainya Megawati. Kita dapat menduga dan mendekati memastikan bahwa hal itu terjadi karena semata-mata kesesuaian suplay dan demand. Adalah logis jika rakyat yang –maaf- tingkat intelektualitasnya rendah, dan berbudaya simbolistis lebih memilih Gusdur dan partainya Megawati, bukan Habibie dan partainya Amien Rais. Habibie dan Amien Rais dalam hal ini bukan tidak berkualitas, akan tetapi tidak sesuai dengan daya terima (akseptabilitas) publik yang ada.
Hal tersebut analog dengan orang kampung yang miskin lebih memilih naik bus ekonomi yang murah dan bebas membawa kambing serta telombong ikan asin ke dalam bus. Mereka tidak nyaman kalau harus membayar tiket mahal tetapi tidak boleh merokok apalagi meludah di dalam bus, sambil membawa serta kambing dan telombong bau busuk milik mereka. Pilihan mereka disesuaikan dengan kemampuan mereka membayar ongkos moral, ongkos intelektual, ongkos sosial, dan juga ongkos financial.
Pertanyaan kita adalah, haruskah Ki Sunda melakukan setting ulang diri mereka agar analog dengan penumpang bus asal kampung yang miskin. Tentu ini pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab. Kita hanya perlu mengevaluasi diri, apakah Ki Sunda telah memiliki kompatibilitas (derajat kesesuaian) politis yang sesuai dengan tuntutan publik pada zaman dan ruang yang ada.
Kompatibilitas konseptual Ki Sunda tidak perlu diragukan lagi. Orang Sunda, misalnya, adalah manusia yang dikonstruksi sebagai “harus”: cageur, bageur, bener, jujur, pinter, singer (sehat, berbudi pekerti luhur, berucap dan bersikap serta bertindak benar, jujur, pandai, dan trampil ) yang dikenal dengan 6-R.
Permasalahannya adalah bahwa secara sosiokultural kesemua itu ada konteks waktu dan tempatnya masing-masing. 6-R dalam konteks tahun 1945 tentu berbeda dengan tahun 1970-an, apalagi tahun 2004. Seseorang yang harus dijuluki Ki Sunda bukanlah yang mengenakan bendo dan berkain serta bersandal selop. Bukan pula mereka yang hafal semua tembang pupuh. Bukan pula mereka yang pandai menari jaipong dan kecapi suling Cianjuran. Jika itu semua ukuran-ukurannya, maka kita berarti telah terjebak ke dalam tradisionalisasi budaya.
Tradisionalisasi budaya merupakan bencana kebudayaan yang tidak ada obatnya. Hal ini dikarenakan tradisionalisasi merupakan sikap dan tindakan melawan kodrat budaya itu sendiri yang selalu dinamis. Dinamika budaya adalah sesuai dengan fungsi budaya itu sendiri, yaitu sebagai cara komunitas manusia menghadapi dan mengendalikan segala persoalan hidup mereka.
Persoalan hidup komunitas manusia berkembang dan berubah setiap saat. Persoalan tersebut semakin bertambah rumit dan multidimensional. Budaya Sunda dan Budaya Ki Sunda hanya akan sesuai dengan tuntutan penyelesaian persoalan hidup berbangsa dan bernegara jika didinamisir sesuai dengan perkembangan keadaan tersebut. Budaya dalam arti pemrograman kolektif pikiran manusia yang ditujukan untuk mempersiapkan diri dalam menyelesaikan setiap persoalan hidup manusia harus di update (disesuaikan) dan di upgrade (ditingkatkan) setiap waktu dan setiap mengalami pergeseran ruang.
Ki Sunda dengan demikian adalah mereka yang dengan bermodalkan nilai-nilai, keyakinan, dan pandangan kosmologis Sunda warisan leluhur mereka mampu beradaptasi dengan setiap detil perubahan keadaan sosial budaya yang mengitarinya. Perubahan sosial budaya dalam konteks politik, termasuk di dalamnya adalah budaya politik dengan berbagai kompleksitas yang menyertainya.
Kompleksitas persoalan politik kepemimpinan bangsa Indonesia dapat meliputi segi-segi ideologi politik, sistem kelembagaan politik, budaya politik, hingga budaya pemasaran politik yang termasuk di dalamnya pola-pola persaingan dan kerjasama politik. Segregasi politik tahun 2004 dapat dipastikan sangat berbeda dengan tahun 1955. Kolaborasi dan persaingan atau pertarungan politik pun berlaku demikian. Ideologi politik yang sama bahkan tampil dengan dandanan politik yang berbeda.
Kepemimpinan politik pada ruang dan penggalan waktu yang ada saat ini hanya sesuai atau cocok bagi kehadiran Ki Sunda yang telah meng-update dan meng-upgrade implementasi nilai-nilai, keyakinan, pandangan hidup, dan cara pikirnya. Update dan upgrade harus mencakup segi-segi moral, intelektual, sosial, dan professional. Moralitas Ki Sunda misalnya, tidak akan menjadikannya iri hati dipimpin oleh orang bukan dari etnik atau entitas budaya Sunda. Hal ini dikarenakan syarat pemimpin untuk orang Sunda yang baik bukanlah etnisitas ke-Sundaannya melainkan kredibilitas totaliternya.
Orang Sunda itu Muslim, oleh karenanya kriteria kredibilitas pemimpin mereka bukan Sunda atau non-Sunda tetapi sesuai dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan agar kita memilih pemimpin yang: sehat badannya, cerdas otaknya, lancar bahasanya, baik budi pekertinya, taat menjalankan agamanya (QS. 2, Al-Baqarah:246-248), paling banyak pengetahuannya, paling senior di dalam medan perjuangan, paling senior di dalam ber-Islam, dan paling tua di antara yang telah terpilih (Hadits Nabi SAW). Islam tidak pernah satu kali pun menyebut perlunya kriteria etnik seperti Sunda, Jawa, atau Arab.
Persoalan pemahaman terhadap budaya orang Sunda, bukanlah monopoli orang yang terlahir dari nenek moyang berdarah Sunda. Kita bahkan sering menyaksikan betapa banyak orang Sunda yang berbahasa Sunda dengan tidak tepat undak-usuk dan entep seureuh-nya. Banyak orang Sunda, tua maupun muda, yang berbicara dalam bahasa Sunda kategori teu merenah. Sebaliknya, saya sendiri yang terlahir dari orangtua berdarah Jawa merasa sangat tidak kredibel jika sekali-kali keliru memilih kosa kata atau kecap Sunda yang kurang tepat, apalagi teu merenah dan tidak jelas entep seureuh-nya. Adalah lebih berbahaya lagi bagi orang Sunda, mereka yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai, keyakinan, dan pandangan hidup yang dianut kesatuan budaya Sunda.
Hal terpenting yang harus kita cari jawabnya sekarang bukanlah “mungkinkah kita sebagai orang Sunda menjadi pemimpin bangsa”. Hal terpenting yang harus kita lakukan sekarang adalah mendefinisikan ulang : siapa diri kita ini yang sejatinya, apa missi hidup kita sebagai bagian dari satu kesatuan (entitas) budaya Sunda, hendak dibawa kemana manusia Sunda saat ini dan esok, bagaimana cara membawanya? Jika demikian dan kita termasuk yang harus bertanggungjawab membawanya, harus seperti apa selayaknya diri kita? Satu hal yang juga penting adalah, bahwa menjadi rakyat yang baik jauh lebih baik daripada menjadi pemimpin yang kurang baik. Rakyat yang baik sama bergunanya dengan pemimpin yang baik.
Baik buruknya seorang pemimpin bangsa bukan karena etnisitasnya, atau kedekatan kekerabatannya dengan kita. Baik dan buruknya pemimpin kita bagi kita adalah sejauh mana pemimpin itu mengerti tentang apa yang terbaik untuk kehidupan kita saat ini dan masa datang. Ciri-cirinya adalah cinta dan selalu bersikap dan berbuat benar (siddiq), dapat dipercaya (amanah) , terbuka dan transparan (tabligh), dan cerdas secara intelektual-sosiemosional-dan spiritual (fatonah). Inilah jati diri Rasulullah pemimpin umat Islam sedunia, yang berarti pemimpin Urang Sunda, karena Urang Sunda itu Muslim. Boleh jadi rumusan jati diri Urang Sunda yang kita kenal dengan 6-R merupakan adopsi dari ajaran Islam yang dicontohkan pada empat jati diri Rasulullah SAW. Jika benar, bukankah Rasulullah itu memang pemimpin kita, dan yang pasti bukan orang Sunda kan?

SOLATUN: dilahirkan dari keluarga Jawa,
Dibesarkan di lingkungan keluarga Sunda,
Telah 34 tahun hidup dalam lingkungan Sunda
Dan lebih sering merasa sebagai Manusia Sunda meski selalu dalam keprihatinan sosiokultural

Februari 23, 2009 - Posted by | Uncategorized

2 Komentar »

  1. setju banget dengan pendapat kang Solatun. Ke depan kita sebagai orang sunda psti bisa memimpin Indonesia tercinta ini !!!!!

    Komentar oleh yusep nugraha | September 15, 2010 | Balas

    • damang pak, iraha atuh urang tiasa kongko bari diskusi nya

      Komentar oleh solatun | April 11, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: