Solatun's Communication Blog

COMMUNICATION, CULTURAL STUDIES, AND CRITICAL DISCOURSE

REORIENTASI PRAKTIK KEHIDUPAN BERAGAMA

REORIENTASI PRAKTIK KEHIDUPAN BERAGAMA
Oleh: SOLATUN

Hubungan antar ummat berbeda agama merupakan hal yang paling peka di antara segala hubungan sosial antar kelompok manusia di dalam masyarakat. Hubungan antar orang-orang dari kategori rasial dan etnis yang berbeda, misalnya, sangat sering bermuara pada terbukanya kesefahaman atas nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mendasar yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Hubungan seperti ini biasanya kemudian mengarah pada modifikasi stereotip dan membuahkan kecenderungan meningkatnya rasa persahabatan. Hubungan antar umat berbeda agama atau berbeda orientasi keberagamaan, di pihak lain, hampir selalu cenderung memperkuat stereotip-stereotip out-group (permusuhan konstruktif atas kelompok lain) dan mengarah pada sikap dan perilaku pengasingan, penolakan, bahkan permusuhan aktif dari suatu kelompok terhadap kelompok lain. Kecenderungan-kecenderungan tersebut di atas, menurut Nottingham, merupakan gambaran dari realitas peran ganda agama di dalam masyarakat yaitu: (1) sebagai pemersatu ummat manusia di dalam masyarakat yang keberagamaannya homogenius, dan (2) sebagai pemicu permusuhan antar kelompok ummat manusia di dalam masyarakat yang keberagamaannya heterogenius (Robin M. William Jr., dalam Maccoby, et al, 1958; Nottingham, 1954).
Masalah krusial kita adalah, bahwa heterogenitas keberagamaan kita bukanlah kondisi yang kita inginkan, melainkan merupakan warisan sosiokultural yang telah melekat pada ummat manusia terdahulu sejak jauh hari sebelum kita lahir ke dunia. Pertanyaan kritis kita yang mungkin juga terkesan sebagai pertanyaan konyol adalah: (1) Mengapa Tuhan membiarkan ummat manusia dalam keberagamaan yang heterogenius (berbeda-beda) sehingga berpotensi konflik antara satu kelompok dengan yang lain; sementara Tuhan di sisi lain menghendaki manusia mengusahakan terciptanya perdamaian dan persaudaraan?, (2) Apa hakikat, tujuan, dan manfaat agama bagi ummat manusia, jika adalah benar pernyataan Tuhan di dalam Al-Qur’an dan Bible bahwa perbedaan keberagamaan ummat manusia merupakan akibat dari adanya sebagian manusia yang beriman (percaya) dan sebagian lagi yang kafir (tidak percaya) kepada Tuhan?, (3) Mengapa Tuhan yang Maha Kuasa tidak dengan kekuasaan-Nya meniadakan ummat manusia yang tidak percaya kepada-Nya atau menjadikan semua ummat manusia hanya cenderung kepada satu agama yang Tuhan sukai?, (4) Perdamaian dan persaudaraan seperti apa yang mungkin diciptakan oleh ummat manusia yang terlanjur hidup di dalam kondisi dan komposisi keberagamaan yang heterogeinus sehingga damai dan persaudaraan yang berkeadilan dapat terwujud?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas menjadi penting bagi kita sehubungan dengan fenomena benturan sosial antar ummat beragama di Indonesia yang selalu bertopeng klaim-klaim kebenaran keagamaan masing-masing pihak yang terlibat. Klaim-klaim kebenaran keagamaan tersebut bahkan telah menjadi kedok permusuhan sengit (meskipun laten) antar sekte atau kelompok pergerakan dari komunitas agama yang sama. Kita, misalnya, tidak mungkin menutup mata terhadap realitas saling mengkafirkan antara ummat Katholik dengan Protestan dalam komunitas Nashrani, dan saling menuding bid’ah antara jama’ah pergerakan Muhammadiyah, Persatuan Islam, dan Nahdlatul Ulama dalam komunitas Muslim. Kita bahkan dengan mudah melihat indikasi bahwa benturan internal ummat beragama tersebut telah menimbulkan bopeng pada sebelah wajah agama yang ada. Belahan pertama wajah agama yang kita jumpai menampilkan citra gairah ritual yang penuh semangat dan menjanjikan harapan; belahan wajah lainnya pada saat bersamaan menampilkan citra seakan nilai-nilai dan semangat yang ada di dalam ritual ummat beragama yang bergelora belum tertransformasikan ke dalam perilaku sosiokultural yang dapat menunjukkan kesan bahwa dengan beragama ummat manusia dapat menjadi beradab. Kebiasaan berdusta dan hipokritisme (munafik) yang merupakan pangkal dari segala amoralitas, misalnya, masih menjadi kegemaran para pemimpin sosial, pemimpin politik, bahkan pemimpin keagamaan. Praktik korupsi, kolusi, nepotisme, dan ingin menang sendiri, misalnya, seolah membenarkan tesis Paul Tillich tentang hilangnya dimensi ruhaniah dari dalam perilaku keberagamaan ummat beragama. Ummat beragama saat ini , misalnya, tidak mampu lagi bertanya pada diri sendiri, apalagi menjawab pertanyaan yang berkisar: “apa arti hidup ini?; dari mana kita berasal dan ke manakah tujuan hidup kita?; Apa yang semestinya dan sepatutnya kita lakukan di dalam hidup ini?; dan apa yang hendaknya kita perankan di dalam hidup yang singkat ini?” (Tillich, dalam Goldman & Hirsch, 1986).
Implikasi sosial dari kondisi ummat beragama tersebut di atas sangat jelas yaitu timbulnya skeptikisme sebagian masyarakat terhadap agama dan peran sosiokultural ummat beragama. Fobi terhadap agama pada tingkat tertentu bahkan telah menjebak masyarakat kita ke dalam kecenderungan berfikir skeptik dan skularistik yang menginginkan agar agama diisolasi di dalam ruang pribadi dan dijauhkan dari kehidupan publik dan sosial budaya, terlebih sosial politik. Sebagian masyarakat bahkan secara apriori memandang segala yang berbau atau berkaitan dengan agama atau keagamaan sebagai suatu yang potensial menimbulkan eksklusifisme, fundamentalisme, ekstreemisme, fanatisme sempit, sektarianisme, radikalisme dan terorisme. Model berfikir dan sikap apriori seperti ini tidak dapat sepenuhnya disalahkan namun juga tidak dapat dibenarkan dengan dalih apapun.
Kita tidak dapat sepenuhnya menyalahkan model berfikir dan bersikap apriori tersebut di atas oleh karena secara faktual konflik dan bahkan peperangan antar komponen bangsa kita melibatkan kelompok-kelompok pemeluk agama yang berbeda. Kelompok-kelompok yang terlibat dalam konflik dan peperangan tersebut, dalam konteks tertentu juga mempergunakan simbol-simbol dan klaim-klaim kebenaran keagamaan. Kita, namun demikian, juga harus dapat secara jernih dan rasional membedakan antara agama sebagai agama dari cara pandang keagamaan, sikap keberagamaan, dan tindakan mengatas namakan agama yang ada pada setiap kelompok pemeluk atau penganut agama. Hal ni sangat fundamental sifatnya mengingat agama adalah suatu yang jelas, bersifat final, tidak tunduk dan tidak dapat disubordinasikan atau disubstrukturkan terhadap cara pandang keagamaan, sikap keberagamaan, dan tindakan mengatas namakan agama yang ada pada suatu atau setiap kelompok pemeluk atau penganut agama. Fobi terhadap agama atas dasar pendangan, pikiran, dan sikap apriori yang mencampur adukkan agama yang bersifat normatif, final dan universal dengan cara pandang keagamaan, sikap keberagamaan, dan tindakan mengatas namakan agama yang ada pada suatu atau setiap kelompok pemeluk atau penganut agama yang merupakan realitas historik yang relatif, situasional dan kondisional, serta multiversal dapat menyeret kita ke dalam kepicikan yang jauh lebih menyesatkan dan membahayakan jika dibandingkan dengan konflik antar ummat berbeda agama itu sendiri. Model pandangan, fikiran, dan sikap apriori ini juga tidak mungkin mampu menemukan inti dan akar permasalahan yang sebenarnya sehingga juga tidak mungkin menghasilkan konsep solusi nyata yang aplikabel terhadap masalah tersebut.
Penempatan secara proporsional berdasarkan kerangka dan cara berfikir yang jernih dan rasional “agama sebagai agama dan cara pandang keagamaan, sikap keberagamaan, dan tindakan mengatas namakan agama” yang ada pada setiap kelompok pemeluk atau penganut agama menurut pandangan penulis akan merupakan kerangka landasan pengungkapan dan perumusan solusi masalah paling fundamental yang terhampar di bawah riak-riak dan bahkan gelombang konflik antar ummat berbeda agama di Indonesia. Penulis, dengan asumsi dasar ini, hendak menyatakan bahwa tesis Nottingham tentang peran ganda agama di dalam masyarakat hanya akan mampu menyentuh kulit luar ekses-ekses dari masalah pergaulan antar ummat berbeda agama, dan bukan masalah intinya. Hal ini dikarenakan penulis berasumsi bahwa akar dan inti permasalahan dari segala konflik dan peperangan antar ummat berbeda agama adalah cara pandang keagamaan, sikap keberagamaan, dan tindakan mengatas namakan agama. Cara pandang keagamaan, sikap keberagamaan, dan tindakan mengatas namakan agama seseorang atau sekelompok orang pemeluk agama yang benar-benar sesuai dengan hakikat dan kehendak dari ajaran agama yang dianutnya, apa pun agamanya, penulis yakini tidak akan mungkin membuahkan potensi konflik. Keyakinan ini merupakan refleksi dari keyakinan bahwa semua agama-agama di Indonesia mengajarkan agar ummat pemeluknya berorientasi pada perilaku sosiokultural yang nulia, menegakkan keadilan, dan selalu berbuat kebajikan. Agama Hindu misalnya menempatkan dharma (kebajikan) sebagai tujuan tertinggi amal keagamaan; Agama Nashrani (Katholik dan Kristen) mengajarkan kasih sebagai puncak dari segala pengamalan keagamaan; dan Islam mengajarkan agar ummatnya setiap saat menegakkan keadilan dan berakhlaq mulia (ihsan) sebagai manifestasi dari segala bentuk keta’atan kepada Tuhan, sehingga Islam secara tegas melarang keras perilaku tidak adil bahkan meski terhadap orang yang kita benci karena memusuhi atau menyakiti dan merugikan kita ( QS. 5 Al-Maidah:8). Inti dan akar permasalahan dari konflik dan peperangan antar ummat berbeda agama, dengan demikian, adalah bagaimana ummat beragama menjalani kehidupan keberagamaannya secara jujur, konsisten, dan konsekuen. Pengamalan kehidupan beragama yang jujur, konsisten, dan konsekuen bukan saja akan mempu menciptakan suasana pergaulan antar ummat berbeda agama yang damai, adil dan rukun melainkan juga akan dengan sendirinya meniadakan perlunya upaya-upaya perdamaian. Hal ini dikarenakan masyarakat (meski heterogenius keberagamaannya) yang telah damai, adil, dan rukun tidak memerlukan langkah-langkah upaya perdamaian. Kita, di dalam masyarakat yang seperti ini, hanya memerlukan upaya memelihara suasana damai, adil, dan rukun tersebut dengan memelihara kejujuran, konsistensi, dan sikap konsekuen kita di dalam melaksanakan ajaran agama kita masing-masing. Hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah, bagaimana meluruskan kembali pandangan, sikap, dan perilaku beragama kita dengan tidak mempolitisir agama untuk kepentingan yang justeru merusak citra agama di mata sebagian masyarakat. Perilaku beragama yang jujur, konsisten, dan konsekuen bukan saja tidak akan dapat dipolitisir oleh kelompok kepentingan manapun, namun di sisi lain akan menguntungkan kepentingan politik masing-masing kelompok pemeluk agama dan kepentingan politik bersama sebagai keluarga bangsa sekaligus. Pasal 29 Undang-undang Dasar 1945, jika kita perhatikan secara cemrat memikul visi dan missi yang sesuai dengan semangat ini.
Pandangan Andreas Bintoro (PR 22 Juni 2003) bahwa perdamaianan merupakan hal sulit dan melawan arus, berdasarkan asumsi konklusif pada paragraf di atas, boleh jadi ada benarnya namun kurang memiliki relevansi yang signifikan dengan akar permasalahan konflik antar ummat berbeda agama di Indonesia yang sesungguhnya. Gagasan perkawinan antaragama sebagai moda perdamaian, bahkan lebih merepresentasikan gagasan semu yang bukan saja tidak akan menyelesaikan masalah, namun justeru berpotensi melahirkan model-model berfikir hipokritis (munafik) yang merupakan sumber masalah baru yang lebih rumit, menyesatkan, dan membahayakan bagi upaya membangun kejujuran, konsistensi, dan sikap konsekuen ummat beragama. Penilaian ini boleh jadi kurang populer di kalangan non-Muslim, namun sama sekali bukan tidak berdasar dan bukan tidak beralasan. Dasar pikiran dari pandangan ini adalah bahwa untuk membangun suatu komunitas multi agama yang rukun, damai, dan berkeadilan tidak memerlukan sikap pura-pura, netral agama, atau apa lagi murtad dari agama yang telah dipeluk dan dianut. Pembangunan kerukunan ummat berbeda agama dalam suatu komunitas multi agama lebih memerlukan sikap arif dan bijaksana dengan tetap teguh, jujur, dan konsisten dalam menjalankan agama masing-masing. Agree in disagreement, meminjam istilah Wilfred Cantwell Smith dan Mukti Ali, dapat menjadi jembatan emas menuju terpenuhinya keperluan tersebut. Agree in Disagreement menunjuk pada semangat bahwa masing-masing pemeluk agama di dalam komunitas multi agama pada kondisi tertentu dan untuk segi-segi agama tertentu perlu sepakat tentang beberapa hal yang mereka tidak sepakat. Hal yang mereka sepakati sebagai hal yang mereka tidak sekapakati (multiversal) adalah menjadi urusan intern ummat beragama masing-masing, di dalam mana setiap pemeluk agama dituntut bersikap empatik terhadap multiversalitas keagamaan kategori tersebut. Pergaulan antar ummat berbeda agama pada saat bersamaan lebih memfokuskan diri pada aspek-aspek universal yang ada pada semua agama seperti dharma, kasih, dan menegakkan keadilan dan berbuat kebajikan untuk semua ummat manusia, terlebih bagi Ummat Islam yang berkewajiban menjadikan Islam sebagai rahmat atau sumber kasih sayang bagi seluruh alam.
Upaya mewujudkan semangat agree in disagreemen yang mampu menghasilkan bangunan ummat multi agama yang jujur, konsisten, dan konsekuen dengan agama masing-masing sesungguhnya telah lama dirintis dan dengan gigih dilakukan oleh para pendahulu kita. Kita, namun demikian, perlu secara sadar melanjutkan upaya tersebut sehingga politisasi agama dan segala implikasinya tidak perlu lagi memperoleh ruang untuk mengkambing hitamkan agama yang berakibat menyengsarakan ummat beragama. Semoga.

SOLATUN:Doktor Ilmu Komunikasi, Konsultan dan Trainer Spesialist Soft Skill Develeopment, sejak 2002 ekstra aktif memberikan training di lingkungan Petroleum Industries (Pertamina, Total, Kondur, Petro China, dll). ALUMNI Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran,dan juga
Alumni Studi Perbandingan Agama pada IAIN SGD Bandung

Februari 23, 2009 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: