Solatun's Communication Blog

COMMUNICATION, CULTURAL STUDIES, AND CRITICAL DISCOURSE

STRATEGI PEROLEH HAJI MABRUR

STRATEGI MEMPEROLEH PAHALA HAJI MABRUR
Oleh: SOLATUN

Pahala ibadah haji mabrur sangat menggiurkan, sorga. Pahala inilah barangkali yang mendorong duaratus ribu lebih orang Indonesia rela menyisihkan puluhan juta rupiahnya untuk menunaikan ibadah haji. Tidak sedikit dari mereka yang menjual sawah, pekarangan, atau tambak dan ladang mereka untuk membayar ongkos naik haji (ONH). Sebagian orang lainnya mungkin ada yang menabung dari gaji atau pendapatannya selama bertahun-tahun.
Latar belakang tingkat pemahaman keislaman jama’ah haji sangat berragam. Sebagian dari mereka sangat mengerti fiqih, berbagai persoalan, dan hakiikat ibadah haji. Sebagian lainnya ada yang awam atau bahkan sama sekali tidak mengerti tentang ibadah haji. Kesemuanya, namun demikian, tahu satu hal bahwa jika ibadah mereka mabrur, maka Allah menjamin mereka akan masuk surga.
Penulis pada tahun 1990 memperoleh pengalaman menarik tentang seorang anggota jama’ah haji asal Jawa Timur. Ia mengatakan bahwa dirinya baru belajar shalat dan ibadah haji secara dadakan tiga bulan menjelang keberangkatannya ke tanah suci. Pejabat Bank milik pemerintah itu juga dengan lugu menyatakan bahwa dirinya sebelumnya tidak pernah menjalankan shalat fardhu, puasa, dan zakat. Shalat yang pernah dilakukan sebelumnya hanyalah shalat sunnat idul fithri dan idul adha masing-masing sekali dalam setahun. Keunikan lain dari anggota jama’ah haji yang satu ini adalah, sangat rajin mengerjakan tawaf, shalat-shalat sunnah, dan sangat patuh kepada pembimbing. Bacaan tawaf satu-satunya yang ia hafal dan amalkan adalah robbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina ‘adzabannar. Bacaan shalatnya pun sangat khas. Menurut pengakuan lugunya, untuk setiap shalat hanya membaca surah fatihah, qulhuwanllah, dan qul a’udzubirabbinnas.
Pertanyaan kita boleh jadi adalah, siapa di antara duaratus ribu lebih jama’ah haji asal Indonesia yang berragam latar pemahaman keislamannya tersebut yang bakal memperoleh pahala haji mabrur? Apakah Bapak pejabat bank asal Jawa Timur akan memperoleh haji mabrur, atau hanya mereka yang sangat faqih dan hafal segala do’a serta bacaan wajib dan sunnah baik di dalam shalat maupun amalan haji?
Pernyataan kebanyakan ustadz pembimbing haji biasanya berkisar pada bahwa, Allahlah yang akan menentukan apakah seseorang layak atau tidak layak memperoleh pahala haji mabrur. Pernyataan ini boleh jadi terkesan tidak adil dan konyol, sebab seolah tidak ada perbedaan imbalan antara yang sangat faqih dengan yang awam sama sekali. Padahal Allah menyebut bahwa bagi orang yang dikaruniai ilmu oleh Allah akan beroleh kedudukan yang lebih tinggi beberapa derajat.
Pernyataan kebanyakan ustadz tersebut, namun demikian tampak lebih banyak benarnya. Pernyataan tersebut bahkan menjadi sangat signifikan untuk kita renungkan dalam kaitan dengan haits Nabi SAW di mdalam kitab Hidayatunnasik bahwa ada lima kategori jama’ah haji. Dari kelima kategori tersebut tidak satupun disebutkan ciri-ciri faqih, alim atau awam. Kelima kategori tersebut adalah kategori jama’ah haji dengan motivasi (1) berrekreasi atau lissiyaahah, (2) berbisnis atau littijaarah, (3) memperoleh kebanggaan (kesombongan dan mengharap penghormatan sosial) atau lilfakhri, (4) mengemis atau lilmas’alah, (5) dan mencari keridhaan Allah atau liibtighaa mardhatillah. Rasulullah dengan jelas dan tegas menganjurkan agar kita beribadah haji hanya semata-mata mengharap keridhaan Allah. Ibadah haji dengan motivasi terakhir inilah yang menjamin akan diperolehnya pahala haji mabrur dengan imbalan masuk surga.
Permasalahan selanjutnya adalah bagaimana caranya agar kita memperoleh pahala haji mabrur, serta bagaimana indikator pencapaiannya? Allah dan Rasulnya dengan jelas telah memberikan panduan strategis untuk mencapai derajat ibadah haji yang mabrur ini. Formula strategis untuk pencapaian haji mabrur misalnya tergambar di dalam surah Ali Imran 95. Dalam ayat tersebut dirumuskan bahwa, ibadah haji hendaknya merupakan ritus untuk menjadikan kita sebagai muslim yang berkarakteristik sebagai berikut, pertama: berani mengatakan secara terbuka tanpa ragu tentang identitas dan jatidiri kita sebagai seorang muslim (orang yang berserah diri dan hanya tunduk kepada ketentuan Allah). Rumusan ini menunjukkan kepada kita bahwa seusai menunaikan ibadah haji kita harus tampil percaya diri sambil tetap selalu mawas diri dengan perasaan, sikap, ucapan, dan tidak-tanduk baik di dalam keluarga maupun di dalam masyarakat dan negara sebagai seorang yang berkepribadian muslim.
Kedua, menjadikan ibadah haji sebagai ritus untuk menjadikan diri kita hanya mengakui dan menegakkan kebenaran dari Allah serta hanya akan menjustifikasi segala persoalan hidup kita berdasarkan ukuran-ukuran kebenaran dari Allah. Rumusan ini menunjukkan kepada kita bahwa seusai menunaikan ibadah haji kita tidak perlu lagi menjadi manusia yang munafik. Hal ni dikarenakan kebenaran dari Allah memang sudah jelas dan tidak perlu diragukan. Rasulullah memberi pedoman agar kita dapat dengan mudah menjustifikasi benar atau salahnya suatu perkara dengan bertanya meminta fatwa kepada hati kita. Setiap perasaan, sikap, ucapan, dan tindakan kita yang bathil akan menjadikan kita was-was, cemas, dan takut kalau-kalau orang lain mengetahuinya. Setiap perasaan, sikap, ucapan, dan tindakan yang baik dan benar, sebaliknya akan menjadika kita yang dan orang lain merasa senang, tidak perlu was-was apalagi cemas dan takut karenanya.
Ketiga, menjadikan ibadah haji sebagai satu pernyataan sikap dan awal tindakan mengikuti agama Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim adalah seorang muslim yang hanif, bukan Yahudi dan bukan Nashrani (QS. Ali Imran 67). Mengikuti dan manjalankan agama Nabi Ibrahim berarti menjadikan keluarga, anak dan istri-istri kita sebagai masyarakat inti yang harus muslim secara kaffah (totaliter) sebelum kita mengajak orang berislam. Keluarga Nabi Ibrahim adalah keluarga teladan bagi masyarakat slueuh pelosok bumi untuk segala zaman yang menggambarkan keislaman totaliter.
Pengamalan agama Nabi Ibrahim tercermin di dalam kehidupan keluarga beliau yang solid ibarat kesatuan bangunan atau tubuh yang tunggal, saling mendukung, saling memberi dan saling menerima. Dukungan istri Nabi Ibrahim terhadap suaminya misalnya dinyatakan dengan menyuruh Nabi Ibrahim menikahi Hajar, pembantunya, ketika belum juga dikaruniai putra padahal usia sudah lanjut. Dukungan ikhlas ini telah menjadikan terlahir Nabi Ismail yang merupakan kakek moyang dari Nabi Muhammad SAW.
Dukungan putranya Ismail terhadap ayahanda Nabi Ibrahim dinyatakan dengan kesediaan dirinya diqurbankan sehingga Nabi Ibrahim dapat menunaikan perintah Allah. Sedang dukungan Hajar kepada Nabi Ibrahim, suaminya, berupa kesediaan ditinggalkan di padang pasir dengan hanya dititipkan kepada Allah sehingga Nabi Ibrahim dapat memenuhi perintah Allah dan mengkabulkan permintaan isteri pertamanya yaitu Sarah.
Keempat, ibadah haji merupakan ritus untuk mengubah budaya kita dan keluarga kita menjadi pribadi dan keluarga yang hanif. Hanif berarti cinta kebenaran dan benci kebathilan, cinta keimanan benci kekafiran, cinta keikhlashan benci kemusyrikan, cinta damai benci permusuhan, cinta amal shalih dan benci kema’shiyatan, dan seterusnya. Rumusan ini menunjukkan kepada kita bahwa seusai ibadah haji kita harus lebih mencintai kebenaran, lebih mantap keimanannya, lebih tinggi keikhlashannya, lebih banyak amal shalihnya, lebih santun dan cinta damai jika dibanding dengan masa-masa yang lapau. Rumusan ini juga menunjukkan bahwa seusai menunaikan ibadah haji kita hendeaknya siap menghentikan kebiasaan segala dusta yang merupakan pangkal segala dosa, segala kecurangan yang merugikan orang lain, segala kesombongan yang membuat kita dibenci orang lain . Kita juga hendaknya berhenti secara total atau berangsur-angsur dari kebiasaan kikir, kebiasaan ma’shiyat, kebiasaan musyrik, dan kebiasaan fasiq lainnya.
Rumusan-sumusan tersebut dimuka tentu saja bukan sekedar untuk dihafal dan difahami, namun diimplementasikan dengan terlebih dahulu mengalamkan tiga doktrin utama ibadah haji yaitu : pertama, tidak sekali-kali berpikiran, berperasaan, bersikap, dan bertindak cabul dan sejenis kecabulan atau porno (rafats) baik sengaja atau karena kecerobohan selama maupun seusai menunaikan ibadah haji. Kedua, tidak sekali-kali berperasaan, berpikiran, bersikap, berucap, dan berbuat fasiq baik selama maupun seusai menunaikan ibadah haji. Fasiq dalam hal ini yaitu menjalankan larangan Allah padahal kita mengetahuinya atau sebaliknya tidak menjalankan perintah-Nya padahal kita mengtetahui harus menjalankannya. Ketiga, tidak sekali-kali secara sengaja atau lalai sehingga terlibat ke dalam pertengkaran dengan siapapun yang ada di sekitar kita, seagama maupun berbeda agama. Pelaksanaan doktrin ini dimaksudkan agar kita menjadi anggota masyarakat yang mampu menciptakan persahabatan dan persaudaraan antar manusia yang menjamin rasa tenteram kawan maupun lawan.
Rumusan strategis di atas berikut implementasinya, akan menjadikan kita seusai menunaikan ibadah haji memperoleh pahala haji mabrur. Mabrur berasal dari kata dalam bahasa Arab yang serumpun dengan al-Birru (kebajikan). Tanda-tanda apakah seseorang memperoleh pahala ibadah haji yang mabrur dapat dilihat dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini, (1) Adakah peningkatan terus menerus rasa percaya diri kita di dalam menegakkan dan mengamalkan kebenaran. Sudahkah kita berbudaya baru, budaya tanpa cabul, tanpa fasiq, dan tanpa pertikaian? (2) Sudahkah kita seusai menunaikan ibadah haji menjadi pribadi yang menjadikan keluarga kita solid dan saling mendukung di dalam upaya menjalankan setiap detil ajaran Islam. Sudahkah kita menjadi pribadi dan keluarga-keluarga yang saling mendukung dapat setiap usaha menjauhi setiap detil larangan Allah, serta layak menjadi contoh masyarakat sekitar kita?
Evaluasi terhadap pelaksanaan atau implementasi rumusan strategis pencapaian pahala haji mabrur dapat dilakukan dengan mencocokkan jawaban atas pertanyaan tersebut di atas dengan rumusan yang telah disediakan Allah dan Rasul-Nya. Jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita hanya dapat diketahui oleh Allah dan hati kita masing-masing. Perilaku nyata kita sebagai wujud dari perasaan dan sikap kita di dalam kehidupan kleseharian di dalam masyarakat seusai menunaikan ibadah haji, namun demikian dapat dengan mudah dilihat dan dirasakan oleh dan berdampak terhadap orang-orang lain di sekeliling kita. Seorang yang memperoleh pahala ibadah haji mabrur niscaya akan merupakan pribadi yang selalu bertambahnya kebaikan dan kebajikannya. Semoga.

April 17, 2009 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: